Life of Ly
blogger? nggak juga...yang penting nulis aja.. :)
June 24, 2008
Pil ajaib penembus waktu
Temen gue yang akan menikah pernah nanya, ada nggak ya pil ajaib yang bisa melewati semua keribetan sebelum pernikahan, dan tahu-tahu begitu terbangun, loe sudah berada di kehidupan pernikahan dan melewati semua kehebohan dalam sekejap. Kalau pil itu ada, gue akan ikutan beli. Bukannya mau menikah lagi, tapi karena ikut mengurusi pernikahan adik kembar gue, gue juga berharap kehebohan ini cepat selesai.
Bayangkan, 2 pertemuan perkenalan keluarga, 2 lamaran, 2 akad nikah, 2 kali resepsi dan tentunya 2 kali biayanya..!! Tadinya kita bercita-cita untuk bikin resepsi sekaligus, kan lucu tuh. Anak kembar, trus pernikahannya juga bareng. Tapi karena suatu dan lain hal, nggak bisa dilakukan. Akhirnya terpusing-pusinglah kita dengan persiapan yang serba mendadak, dan juga waktu yang mepet ini. Tambah lagi, yang satu di Jakarta, yang satunya lagi di Bandung. Sempurna...!! :-))
Kejadian yang seru, terjadi di toko bahan di pasar mayestik. Ceritanya gue dan salah satu si kembar, lagi nyari bahan untuk sodara-sodara perempuan. Sementara di Bandung sana, si kembar yang lain, sama bokap nyokap lagi ketemuan sama empunya pelaminan. Thanks to teknologi canggih saat ini, bervideo call lah kita di mayestik dengan mereka di Bandung sana.
Berikut cuplikan percakapannya
Gue: "mam, ini warna birunya yang kita mau pilih buat acara di Bandung, bagus gak?" sambil mengarahkan hp ke brokat2 yang terhampar didepan gue"
nyokap: "hmm, bagus tapi kok bling bling banget sih, apa ga heboh buat siang"
adek gue: "enggak mam, bagus kok, naah kalo yang ini ntar buat brokat yang buat mama acara nikah"
nyokap (gue liat lewat videocall, keningnya berkerut2 begitu rupa): warnanya apa tuh?putih?"
adek gue: "bukan putih mam, itu krem, niih putiihh , ini krem" sambil ngarahin hp ke brokat putih dan krem bergantian. "keliatan gak?"
Gue udah pasrah, karena warna2 tersebut keliatan di hp emang jadi ga nyata.
Tampang2 dari seberang sana terlihat tambah berkerut2..asli, gue mau ngakak.
nyokap: *sounds sewot* "warnanya gak jelas nih, kayaknya pucet semua gitu.
gue: "ya terserah mama aja, kalo mau minggu depan balik kesini lagi"
nyokap: "jangan terserah, mana warna2 yang laen coba liat"
adek gue: "niihhh mam, ini gold, ini maroon, ini ijo melon" *shoot ke barisan brokat2 yang terpajang cantik di display*
nyokap: pelaann pelaaann..nggak keliatan nih warnanya...
gue ama adek gue : aaaarrrrrrhhhhhhhhhhhhhhh.......
Tentunya, semua adegan diatas, disaksikan beramai2 oleh petugas toko. ha ha ha ha...
Yang menurut gue paling ribet adalah, ngitungin potongan bahan seragaman yang mesti dibeli. Ada 2 kali pernikahan, berarti ada 2 seragam nyokap plus besan masing-masing untuk akad nikah dan resepsi. Trus ada seragam the sisters. Si kembar masing-masing punya satu calon ipar perempuan. Berapa potongkah bahan seragam yang dibutuhkan. Silahkan kalo mau bantuin ngitung, dijamin keriting. Udah kayak contoh soal cerita matematika kan?? :)))
Bener loh, pas bayar...untuk resepsi salah satu kembar yang di Jakarta, kelebihan 2 potong, karena kita ngitung calon ipar si kembar yang di Bandung dan ngitung si kembar yang jadi manten itu sendiri..ha ha ha...bener-bener membingungkan.
April 30, 2008
Bekas Paku di Hati
Seorang ayah sangat prihatin dengan keadaan anaknya yang tidak bisa mengontrol emosi. Sampai si ayah meminta anaknya untuk memakukan satu paku ke sebuah dinding, setiap kali si anak marah. Suatu hari si anak menyadari, bahwa dinding itu sudah tidak lagi memiliki tempat untuk dia memakukan satu pakupun. Dia bertanya pada ayahnya "Ayah, tidak ada lagi tempat untuk memakukan paku di dinding ini". Si ayah menjawab " Kalau begitu, coba lah tahan marah mu, dan setiap kali engkau berhasil menahan marah, cabutlah satu paku dari dinding itu. Si anak mulai melakukan itu, dan sampai pada saat dinding itu bersih dari paku-paku. Dia kembali menemui ayahnya dan memberitahukan "Ayah, dinding ini sudah bersih dari paku. Artinya aku sudah berhasil tidak marah-marah lagi ya ayah. Si ayah berkata sambil membelai kepala anaknya "Bagus anakku, kamu sudah berhasil menahan marah. Tapi lihatlah dinding itu. Meskipun dia bersih dari paku, tapi bekas pakunya tidak hilang, dan akan tetap ada di dinding itu" Si anak tercenung sambil menatap dinding yang penuh dengan bekas paku tersebut.
Moral of the story: Marah tidak akan menyelesaikan persoalan. Hanya akan melukai dan meninggalkan goresan luka dihati. Apalagi dilakukan kepada orang-orang tercinta.
Sumber:Cerita ini gue dengar dan baca dengan berbagai versi. Gue ceritakan ulang dengan bahasa gue sendiri.
April 29, 2008
Hidup tanpa para asisten
Setelah 2 hari kemarin OB kantor gue nggak masuk, pagi ini gue menemukan ruangan resepsionis teratur, koran digantung sesuai tanggal, meja-meja rapi, pantry mengkilap, dan wangi kopi yang menyebar nikmat. Gue bisa tebak bahwa hari ini dia sudah masuk kembali. Kemarin? Jangan tanya. Masuk kantor disambut koran yang masih berserakan di meja resepsionis, gelas kopi di meja pantry, meja-meja berantakan, barang-barang yang tidak pada tempatnya, sangat mengganggu pemandangan. Itu baru dia sakit 2 hari, bayangin kalau dia nggak masuk kantor seminggu. Kalau punya OB lebih dari satu, nggak masalah. Tapi punya OB satu-satunya dan tiba-tiba sakit, kita semua langsung merasa invalid.
Di kantor, OB bisa dibilang adalah asistennya semua orang.
Asisten berikutnya, pembantu rumah tangga. Buat yang punya bayi atau tinggal sama orang tua kategori lansia, bisa dipastikan bakal ketergantungan sama PRT. Job desc nya beragam. PRT di keluarga yang punya bayi, bisa difungsikan sebagai babysitter, sementara di keluarga yang ada manulanya, bisa jadi pengasuh manula. Kalau kita bekerja dikantor, ada Sabtu dan Minggu yang kita pakai sebagai hari tanpa bekerja. Bisa leyeh-leyeh, bisa tidur-tiduran sepanjang hari. Tapi lazimnya PRT hanya punya 1 hari libur dalam sebulan. Selebihnya mereka bekerja dengan ritual yang sama setiap hari. Kebayang kan suntuknya seperti apa.
Satu lagi, asisten yang nggak kalah penting adalah supir. Keluarga yang punya anak usia sekolah, sementara orang tua bekerja, pasti sangat bergantung sama supir. Pasangan lansia yang masih sehat, dan masih suka jalan-jalan pasti juga butuh supir. Bahkan, suami istri super sibuk dengan aktivitas tinggi, bisa terganggu kalau sehari saja supirnya nggak masuk.
Kadang-kadang kita suka lupa bahwa peran orang-orang itu juga penting. Kita menganggap mereka cuma orang yang kita gaji, kemudian kita lupakan kebutuhan mereka sebagai manusia. Padahal mereka mungkin nggak menuntut banyak. Sapaan ramah di pagi hari buat OB bisa membuat mereka tersenyum dan merasa "dianggap". . Hari libur buat para PRT membuat mereka lebih segar dan mengalihkan kesuntukan kerja berminggu-minggu. Sesekali memberi tips lebih buat supir bisa membuat mata mereka berbinar karena berpikir akan bisa membawakan martabak untuk keluarganya.
Kalau tiba-tiba harus hidup tanpa asisten...sanggupkah anda?
April 14, 2008
Perhelatan untuk siapa?
Di suatu pesta pernikahan yang cantik, sempurna dan megah, gue mulai mengantri untuk memberi ucapan selamat kepada pengantin yang berbahagia. Antriannya panjang, tertib, dan teratur. Pastinya udah diatur begitu rupa oleh si empunya hajat. Beberapa kali antrian disalip untuk orang-orang tertentu. Entah karena mereka undangan vip atau karena udah tua aja. Menurut gue nggak masalah. Yang gue lihat memang yang didahulukan adalah orang sudah sepuh, dan nggak akan mungkin bisa ikut antrian panjang. Naahh, yang mulai meresahkan adalah setelah antrian diserobot, kemudiaann, tamu-tamu vip itu musti kudu pake dipotret dulu. Para pengantri mulai berbisik-bisik sebaallll...he he he..Diriku yang sabar ini (waks), masih tolerable dengan hal-hal gak penting kayak gitu, mungkin mereka juga kepengen kali yeee, foto sama mantan pejabat lah, mantan anggota dpr lah, or whatever. Sok atuh..kasih deehh..
Mendekati panggung, kira-kira 2 atau 3 orang di depan gue, ada sepasang bapak ibu yang sudah bersiap-siap mau bersalaman. Tapi disuruh nunggu karena ada yang lagi di foto. Bapak dan ibu ini sudah agak sepuh juga (yang pasti, mereka bukan orang penting, karena gak didahulukan). Menilik gaya berpakaiannya, mereka hanyalah orang 'biasa'. Si bapak pakai baju koko dan berpeci, si ibu pakai abaya. Gue berpemahaman, mereka kerabat dari kampung halaman. Tiba-tiba , mereka dihentikan oleh si pengarah gaya, karena dibelakang mereka ada sepasang bapak ibu laen, yang jelas-jelas berasal dari kasta yang berbeda. Terlihat dari jas si bapak, dan sasak si ibu yang tinggi. Dengan hebatnya, si pengarah gaya meminta mereka dengan gaya polantas yang sok sibuk, untuk mendahului si bapak ibu sederhana yang sudah bersiap-siap untuk bersalaman. Ooohhh.....gue geraaamm setengah mati.
Gini ya,
Kita semua tamu di pesta itu. Kita diundang oleh yang punya pesta dan diharapkan datang untuk memberi ucapan selamat dan doa kepada mempelai dan keluarga. Status kita sama, walaupun kita datang dengan kostum dan penampilan yang berbeda-beda. Apakah orang yang datang pake jas dan sasak tinggi doanya lebih makbul daripada yang dateng pake peci dan pake abaya?? Belum cencyuu...
Si pengarah gaya dengan gayanya yang super norak dan over acting, nggak berhak menghalangi orang yang mau bersalaman seenaknya. Toh memang sudah giliran bapak ibu sederhana itu untuk bersalaman. Kalaupun memang ada yang didahulukan, biasanya escortnya yang menentukan, orang-orang yang akan menyalip antrian. Bukan si pengarah gaya!!
Yang menyalip si bapak ibu itu juga nggak bijaksana. Mereka kan bisa menolak, dan mempersilahkan orang yang memang sudah gilirannya untuk tetap bersalaman. Bukannya malah iya-iya dan manut aja disuruh melakukan hal yang nggak bener!! Mungkin mereka memang merasa lebih berhak duluan, karena sasaknya lebih tinggi.
Ketika disalip, si ibu ber-abaya hendak protes, tapi si bapak menyabarkan. Menghibur istrinya yang hanya bisa menghela nafas dengan wajah muram. Tujuan mereka hanya mengucapkan doa untuk mempelai dan keluarga. Lain tidak. Pastinya mereka jadi merasa tidak pantas ada disitu hanya karena si pengarah gaya tolol yang sok beraksi bergaya ala polantas dijalan.
Hati gue meleleh. Perhelatan itu ada untuk semua orang yang diundang. Harusnya, semua orang juga dipandang sama. Gue hanya bisa menatap benci entah kepada siapa.
April 1, 2008
Siapa Berdoa Untuk Saya
tulisan ini gue ambil dari blognya Bayu Gautama
Untuk semua yang merindukan hadirnya makhluk kecil dalam hidupnya.
Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam sebuah kajian, seorang ibu bertanya, “Sudah duabelas tahun saya menikah, tapi belum dikaruniai anak. Kalau sampai ajal menjemput nanti saya belum juga mendapatkan anak, siapa yang akan mendoakan saya di kuburan?”
Semua mata tertegun, terharu dan juga sedikit bingung memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Beberapa ibu bahkan menitikkan airmata, bisa dirasakan harapan terdalam dari ibu yang bertanya itu. Sebab bagi siapa pun wanita di muka bumi ini, memiliki buah hati dari rahimnya sendiri adalah mimpi terindah, harapan terbesar dan cita-cita tertinggi di sepanjang perjalanan hidupnya.
Namun pertanyaan itu begitu menghentak, betapa setiap orang beriman akan mendapatkan beragam ujian. Salah satunya berkenaan dengan amanah berupa anak. Bagi yang diberi amanah, tetaplah sebuah ujian agar menjaga amanah tersebut sebaik-baiknya. Ibarat seseorang yang menitipkan suatu barang berharga kepada orang lain yang dipercayainya, ia berharap barang tersebut dijaga, dipelihara sebaik mungkin, hingga pada satu saat barang itu harus dikembalikan, tetap dalam keadaan baik.
Bahkan mungkin ketika barang itu belum waktunya diambil pun, si penitip yang melihat orang yang dipercaya itu mampu menjaga amanah dengan baik, maka ia tak akan sungkan menitipkan barang lainnya. Ada dua motivasi yang muncul ketika titipan kedua diberikan, apakah memang ia telah menjaga dengan baik titipan pertamanya, atau, titipan kedua sebagai ujian agar ia mampu berbuat lebih baik lagi.
Begitu pula dengan mereka yang belum diberi kesempatan. Bukan semata karena ia belum layak mendapat amanah, juga bukan karena mereka yang diberi momongan itu lebih baik kualitas diri dan kehidupannya. Ini semua menjadi rahasia Allah, sedangkan sebagai hamba kita hanya bisa berdoa agar Allah kelak memberikan kesempatan itu meski hanya sekali.
Banyak kita jumpai, sepasang suami isteri yang shalih, taat beribadah, berkecukupan, dengan latar belakang pendidikan yang sangat menunjang, namun belum dikaruniai seorang anak. Berbagai upaya sudah dilakukan, dan tak henti berusaha lantaran tak ada sedikit pun masalah medis dalam diri suami isteri tersebut. Jika demikian, doa dan terus bersyukur atas segala rezeki yang telah diterimanya bisa membuat Allah tersenyum dan berkenan menambahkan rezeki lainnya. Tentu saja Allah tahu persis apa yang paling diinginkan setiap hamba, meski tak satu pun hamba yang boleh mendikte keinginan Allah.
Kembali ke pertanyaan di atas, “siapa yang akan berdoa untuk saya sesudah saya mati?” adalah pertanyaan dari hati terdalam seorang ibu yang memendam kerinduan teramat dalam akan hadirnya si buah hati. Makna tertinggi dari harapan sepasang manusia, bukan sekadar bisa menimang dan mengaliri kasih sayang melalui peluk kasih dan sentuhan lembut jemari sang ibu. Tak hanya sebentuk rindu menyanyikan lagu ‘nina bobo’ atau senandung shalawat ketika buah hatinya terlelap dalam belaiannya. Lebih, jelas lebih dari itu. Ia telah menyiapkan segala sesuatunya agar kelak anak-anak yang tumbuh dan keluar dari rahimnya, adalah anak-anak yang memahami betul peran dan multi tanggungjawabnya; kepada Tuhannya, kepada orangtuanya, juga kepada lingkungannya.
Hiburan berupa jawaban, “Meski tidak dikaruniai anak, ibu kan masih punya dua hal lainnya; ilmu yang bermanfaat dan amal shalih” hanya berlaku sesaat. Ketika ia merasa sendiri di rumah, saat suaminya mencari nafkah, suara tangis dan kelakar riang anak-anak akan mengisi hari-hari sepinya.
Siapa wanita yang tak menitikkan air mata kala mengetahui segumpal darah berbentuk janin dititipkan di rahimnya? Air matanya sejernih cintanya, bulir airnya menggugurkan kerinduan teramat dalam di sepanjang hidupnya. Saya berdoa untuk semua saudara yang masih menggenggam rindu ini.
March 12, 2008
Disiarkan langsung oleh El-Shinta
Namanya Ahmad Sobari. Dia pengemudi taksi burung biru yang nggak sengaja gue tumpangi waktu gue mau ke kantor. Pertama kali gue masuk taksinya, dia menyapa lalu meneruskan bicara lewat telepon. Mampang pagi ini memang minta ampun macet, hampir nggak bergerak. Ini obrolan gue dengannya nggak lama setelah dia selesai menelpon.
Ahmad Sobari (AS): Maaf ya mbak, kalau mengganggu
Gue : macet banget ya, ampe ujung nih kayaknya *siap-siap bete*
AS: nah ini mbak, barusan ini saya komplain ke EL-shinta loh
Gue: Oya?komplain jalanan macet?
AS: iya, itu juga, coba tu mbak, masa jalur buswaynya sepi begitu, trus kita macet-macet di jalur sini?? katanya sih lagi di steril jalanannya, nggak boleh lewat kalo bukan busway..huh!
Gue: hmm...*mulai berasa aneh* bukannya emang udah seharusnya begitu pak?jalur transjakarta kan memang harusnya nggak boleh dipake?
AS: loh ya enggak dong..lah wong lagi gak ada busway lewat, masa kita nggak boleh lewat situ. makanya saya komplain ke pemerintah, tadi pulsa saya sampe abis tuh, mau beli lagi ah...
Muka gue mulai setengah aneh setengah geli
AS: mbak sering ke airport nggak?
Gue: hm..udah lama enggak pak
AS: jalanan di terminal 2 kan udah nggak bolong-bolong lagi, itu juga gara2 saya saban ke airport, komplain ke El-Shinta juga.
Gue: Oya pak?
AS: iya...mbak kalo denger El-Shinta pasti tiap hari ada saya.
Gue: maksudnya?? *nggak ngerti nih guee*
AS: El-Shinta itu cepet ngangkat telponnya kalo mau komplain, jadi apaaa aja saya laporin. Mulai dari pohon tumbang, jalan rusak, anak sekolah berantem, listrik padam, motor nyelip-nyelip seenaknya, semua deh yang nggak bener, pasti saya laporin.
Gue: ooooooo...*baru mengerti kalo ternyata si bapak ini profesinya selain pengemudi taksi juga juara komplain*
AS: Saya itu orangnya peduli warga mbak, ikhlas gitu loh nolongin orang. Makanya kalo liat macet gini, saya telponin terus EL-Shintanya, biar ngerti gitu loh..kan kasian masyarakat mau ke kantor kalo macet begini.
Gue: *mikir...emangnya yang naik Transjakarta bukan masyarakat yang mau ke kantor juga ya??*
Gue dibelakang mati kegelian
AS: Mbak orang kantoran juga kan? apa nggak marah nih jalanan macet begini?
Gue: ya kesel sih pak, tapi mau gimana lagi?
AS: komplain ke El-Shinta aja...makin banyak orang yang protes kan nanti jalanannya bisa dibuka lagi buat mobil biasa
Gue: *speechless*
AS: mbak..mbak..itu yang di papan iklan didepan itu, Rieke Dyah Pitaloka bukan? itu loh mbak..! *sambil nunjuk billboard iklan susu formula diseberang jalan*
Gue: hahhh!! *melongok si mbak mirip rieke sambil mikir, mau komplain apa lagi bapak ini????*
Wuahahahhahahahhaa...kali ini gue nahan ketawa sambil guling-guling dibelakang.
Sembari turun, gue kasih lebihan buat bapak itu untuk beli pulsa, supaya dia makin rajin komplainnya...hahahaha...Tuhaaannnn...lucu sekali bapak ini. Gue juga diajak sering-sering komplain ke pemerintah loh. Gue pikir-pikir, gue aja yang baru sekali ketemu bapak itu udah gerah nanggepin komplainnya apalagi kalo sering-sering! Jadi kalo dengerin El-Shinta pagi-pagi, trus kebetulan denger komplain warga dari bapak Ahmad Sobari..naahh..itulah dia. Si bapak kocak yang gue temui tadi pagi.
March 9, 2008
Suatu sore yang nggak penting

Kalo dua perempuan ketemu, trus terdampar di Coffebean Senayan City tanpa ada tujuan yang jelas..apa yang terjadi?? pastinya ngomongin apa aja, mulai dari kerjaan, salon, tukang jait, curhat, diselingiii....ngomentarin artis yang lewat wara wiri disekitaran kita.
scene 1: seorang artis sinetron berinisial BS
kostum: kaos pendek, rok mini kulit, legging abu, pake postman bag, rambut ala julia roberts jaman dulu, dandanan medok abis.
komentar temen gue: dandanannya taon kemaren banget ye..
komentar gue: bitch..
scene 2: seorang presenter yang juga guru bahasa inggris di sebuah sekolah di Jakarta.
kostum: mini dress kembang-kembang, rambut bob, tas tangan kembang2 juga, wedges tali2.
komentar temen gue: cute banget nih orang
komentar gue: waks...kapan ya gue sekurus dia..
scene 3: istri seorang pemain sinetron ganteng yang sekarang namanya mulai tenggelam.
kostum: kaos putih, jeans, sendal teplek, tas gede, rambut dan riasan muka seadanya.
komentar temen gue: masa sih itu istrinya..keren yah..
komentar gue: ternyata buat cantik gak harus berlebihan ya..
scene 4: seorang anchor ngetop di salah satu tv swasta
kostum: blazer lengkap, rambut cepak, tas notebook super gede, jalannya sumpah kenceng banget.
komentar temen gue: gue banget tuh..
komentar gue: kebelet pipis kali nih orang, jalannya nyaris lari..:))
Makin sore, diantara obrolan gue yang makin seru, artis yang lewat juga makin seru..jadi bingung, mo ngobrol aja, ato mo ngomentarin dandanan artis aja?? ah kayaknya mendingan dihentikan saja yaaa..ha ha ha...
Subscribe to:
Posts (Atom)