April 29, 2008
Hidup tanpa para asisten
Setelah 2 hari kemarin OB kantor gue nggak masuk, pagi ini gue menemukan ruangan resepsionis teratur, koran digantung sesuai tanggal, meja-meja rapi, pantry mengkilap, dan wangi kopi yang menyebar nikmat. Gue bisa tebak bahwa hari ini dia sudah masuk kembali. Kemarin? Jangan tanya. Masuk kantor disambut koran yang masih berserakan di meja resepsionis, gelas kopi di meja pantry, meja-meja berantakan, barang-barang yang tidak pada tempatnya, sangat mengganggu pemandangan. Itu baru dia sakit 2 hari, bayangin kalau dia nggak masuk kantor seminggu. Kalau punya OB lebih dari satu, nggak masalah. Tapi punya OB satu-satunya dan tiba-tiba sakit, kita semua langsung merasa invalid.
Di kantor, OB bisa dibilang adalah asistennya semua orang.
Asisten berikutnya, pembantu rumah tangga. Buat yang punya bayi atau tinggal sama orang tua kategori lansia, bisa dipastikan bakal ketergantungan sama PRT. Job desc nya beragam. PRT di keluarga yang punya bayi, bisa difungsikan sebagai babysitter, sementara di keluarga yang ada manulanya, bisa jadi pengasuh manula. Kalau kita bekerja dikantor, ada Sabtu dan Minggu yang kita pakai sebagai hari tanpa bekerja. Bisa leyeh-leyeh, bisa tidur-tiduran sepanjang hari. Tapi lazimnya PRT hanya punya 1 hari libur dalam sebulan. Selebihnya mereka bekerja dengan ritual yang sama setiap hari. Kebayang kan suntuknya seperti apa.
Satu lagi, asisten yang nggak kalah penting adalah supir. Keluarga yang punya anak usia sekolah, sementara orang tua bekerja, pasti sangat bergantung sama supir. Pasangan lansia yang masih sehat, dan masih suka jalan-jalan pasti juga butuh supir. Bahkan, suami istri super sibuk dengan aktivitas tinggi, bisa terganggu kalau sehari saja supirnya nggak masuk.
Kadang-kadang kita suka lupa bahwa peran orang-orang itu juga penting. Kita menganggap mereka cuma orang yang kita gaji, kemudian kita lupakan kebutuhan mereka sebagai manusia. Padahal mereka mungkin nggak menuntut banyak. Sapaan ramah di pagi hari buat OB bisa membuat mereka tersenyum dan merasa "dianggap". . Hari libur buat para PRT membuat mereka lebih segar dan mengalihkan kesuntukan kerja berminggu-minggu. Sesekali memberi tips lebih buat supir bisa membuat mata mereka berbinar karena berpikir akan bisa membawakan martabak untuk keluarganya.
Kalau tiba-tiba harus hidup tanpa asisten...sanggupkah anda?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment